SEJARAH KAMPUNG BATIK LAWEYAN

Bila anda mencari sebuah kampung yang terkenal akan sejarahnya yang kental akan batik, maka ada baiknya anda mengunjungi kampung laweyan.

kampung batik laweyan

Kampung Laweyan merupakan kawasan sentra industri batik di Surakarta yang unik, spesifik dan bersejarah. Nama desa laweyan mempunyai arti berasal dari kata Lawe yang mempunyai makna benang atau tali untuk membuat bahan sandang. Kampung ini sudah ada sebelum munculnya kerajaan Pajang. Sejarah Laweyan barulah berarti setelah Kyai Ageng Hanis bermukim di desa Laweyan. Pada tahun 1546 M, tepatnya di sebelah utara pasar Laweyan (sekarang Kampung Lor Pasar Mati) dan membelakangi jalan yang menghubungkan antara Mentaok dengan desa Sala (sekarang jalan Dr. Rajiman). Kyai Ageng Henis adalah putra dari Kyai Ageng Sela yang merupakan keturunan raja Brawijaya V. Kyai Ageng Henis atau Kyai Ageng Laweyan adalah juga “manggala pinatuwaning nagara” Kerajaan Pajang semasa Jaka Tingkir menjadi Adipati Pajang pada tahun 1546 M.

Pada masa pra kemerdekaan masyarakat laweyan ikut dalam mempelopori perlawanan terhadap kolonial Belanda dengan mendirikan Serikat dangang Islam (SDI) pada tahun 1909. Pada masa kemerdekaan desa laweyan masih menopang perekonomian dengan membuat batik. Karena hal tersebut laweyan ditetapkan menjadi kawasan cagar budaya dan pariwisata oleh Pemerintah daerah surakarta pada tanggal 24 september 2004. Sejak pencanangan inilah laweyan bangkit kembali dan menobatkan dirinya menjadi kampoeng batik laweyan sebagai kawasan belanja sandang dan budaya. Oleh karena kepeloporan masuarakat laweyan tersebut empat tahun kemudian atau pada tahun 2008, laweyan mendapatkan anugerah dari presiden RI sebagai desa pelopor.

 Sampai sekarang batik Laweyan menjadi salah satu penompang perekonomian surakarta yang cukup penting. Namun di Surakarta bukan hanya laweyan saja yang menjadi penghasil batik. Kauman, pasar kliwon, pajang, sondakan juga menjadi penghasil batik yang sampai sekarang tetap eksis.

Di antara ratusan motif batik yang dapat ditemukan di Kampung Batik Laweyan, jarik dengan motif Tirto Tejo dan Truntum jadi ciri khan Batik Laweyan.

Laweyan juga terkenal dengan bentuk bangunan rumah para juragan batik yang dipengaruhi arsitektur tradisional Jawa, Eropa, Cina, dan Islam. Bangunan-bangunan tersebut dilengkapi dengan pagar tinggi atau “beteng” yang menyebabkan terbentuknya gang-gang sempit spesifik seperti kawasan Town Space.

Kelengkapan khasanah seni dan budaya Kampung Batik Laweyan tersebut membuat Laweyan banyak dikunjungi wisatawan dari dinas dan institusi pendidikan, swasta, mancanegara (Jepang, Amerika Serikat, dan Belanda).

semoga bermanfaat (kk_01)

 

 

 

 

 
 
 

 

 

 

 


Comments

comments

Powered by Facebook Comments

1 Comment + Add Comment

  • [...] postingan lalu, anda telah mengenal dua kampung batik seperti kampung laweyan dan kampung trusmi. Nah, kali ini kita akan masih mempir ke Surakarta dengan kampung batik yang [...]

Got anything to say? Go ahead and leave a comment!

ORDER & DELIVERY

Telp/SMS : 088-16157430
BBM : 3153AB35
YM : cHat With mE
email : kriyalea@gmail.com

Pengiriman dilakukan setiap Hari Selasa dan Kamis.

LIKE US ON FACEBOOK

TRANSLATION

Live Traffic Feed

Feedjit Widget
free counters