Mengenal Kain Tenun Ikat NTT

 

Kain Khas FloresSiapa yang menyangka bahwa Nusa Tenggara Timur (NTT), pulau yang kaya yang terdiri dari banyak pulau, ternyata juga mempunyai salah satu produk budaya yang menonjol yatu kain tenun ikat.

Flores, sebagai bagian dari kelompok pulau di NTT terdiri dari tiga puluh suku dengan bahasa dan dialek yang berbeda yang juga menghasilkan hasil tenun yang beragam pula.

Penenun flores memilin sendiri kapas untuk dijadikan benang yang akan ditenun. Mereka juga mencelup sendiri banang ke dalam bahan pewarna. Untuk mendapatkan warna yang tahan lama,pencelupan dilakukan berkali-kali. Telapak tangan dan kuku-kuku wanita penenun sampai berwarna hitam gara-gara melakukan pencelupan.

Awalnya, motif kain tenun ikat NTT ini kebanyakan bercorak bunga atau hewan seperti cicak dan ayam. Namun, sejak pedagang asal Eropa masuk ke kawasan NTT. Corak yang diadaptasi pun mulai bergaya kolonial. Motif-motif yang ditenun pun menjadi semakin variatif. Biasanya, corak yang ditenun sesuai dengan perkembangan kehidupan masyarakat NTT saat itu.

Beberapa daerah di Flores yang hasil tenunnya cukup menonjol adalah:

1. Tenun Manggarai

Di Manggarai, ada teknik khusus dalam pembuatan ikat, yaitu menggunakan lidi-lidi pengungkit untuk menghasilkan pakan tenun songket tambahan.

2. Ngada

Tenun ikat di Ngada umumnya bergaris sederhana dengan warna kombinasi biru dan coklat yang gelap.

3. Sikka

Perempuan suku Sikka menggunakan kain sarung dari tenun ikat sebatas pinggang, biasa disebut utan. Sementara untuk baju atasnya, mereka mengenakan kebaya yang disebut labu. Mereka melengkapinya dengan dong atau sejenis selendang, serta konde berbentuk bunga yang disebut bunga we.

4. Ende

Kain tenun Ende mendapat pengaruh yang kuat dari Eropa, sebab secara geografis Ende berada di pesisir selatan Flores. Ragam hias kain tenun ikat Ende hanya menggunakan satu motif di tengah-tengah kain.

5. Lio

Motif tenun ikat di daerah Lio terilhami oleh motif potola India, atau motif jlamprang dan ceplok pada batik. Ragam hias dahan, daun, dan ranting turut melengkapi kain tenun ikat dari Lio.

6. Lembata

Ada dua jenis kain tenun ikat Lembata. Kewatek nai rua, yaitu kain sarung yang tenunannya terdiri dari dua bagian kain yang digabungkan. Dan Kewatek nai telokain yang terdiri dari tiga bagian yang disambung menjadi satu sarung.

Pekerjaan menenun kain ini berlangsung hingga berbulan-bulan. Dengan sangat tekun dan sabar mereka menenun. Mereka tak bosan, sebab menenun bagi mereka adalah menoreh jejak kebudayaan.

Selain diminati para kolektor, kain tenun ikat juga banyak digunakan untuk dekorasi maupun kebutuhan sehari hari. Proses pembuatan secara tradisional pun masih tetap dipertahankan. Tak heran jika harganya cukup mahal. Kain tradisional ini asal NTT ini dijual antara Rp 100 ribu hingga Rp 19 juta rupiah.

Semoga bermanfaat.

Untuk melihat Koleksi Tas Batik Handmade KriyaLea, silakan lihat COLLECTION

Untuk melihat Koleksi KriyaLea yang sudah pernah dirilis, silakan lihat SOLD ITEM

Comments

comments

Powered by Facebook Comments

Got anything to say? Go ahead and leave a comment!

ORDER & DELIVERY

Telp/SMS : 088-16157430
BBM : 3153AB35
YM : cHat With mE
email : kriyalea@gmail.com

Pengiriman dilakukan setiap Hari Selasa dan Kamis.

LIKE US ON FACEBOOK

TRANSLATION

Live Traffic Feed

Feedjit Widget
free counters